Menunggu. mungkin bagi setiap orang menunggu itu sangat membosankan.
Kalau kata anak remaja sekarang sih menunggu itu ga enak. Memang
menunggu itu membosankan, melelahkan, dan ga enak, aku juga pernah
bahkan sedang merasakan yang namanya nunggu. Aku memiliki rasa pada
sahabatku sendiri, memang sih ga wajar kalau misalkan kita punya rasa
sama sahabat kita sendiri. Tapi ya itulah yang sekarang aku rasakan. Dia
adalah sahabatku, bukan hanya sahabat sih tapi dia juga teman bercanda
sekaligus teman berantem aku. Saat itu aku sedang mengalami yang namanya
diselingkuhin. Nyesek sakit pedih itu yang aku rasain saat aku
disakitin sama yang namanya cowo. Tapi perlahan-lahan aku mulai bisa
melupakan cowo yang nyakitin aku itu. Dan entah kenapa pada saat hari
terakhir liburan aku bertemu dengan temanku itu, dan disitulah perasaan
ini mulai muncul. Aku juga gatau kenapa perasaan ini muncul begitu saja,
aku mencoba memendam perasaanku ini, dari pertemuan itu aku dan dia
menjadi lebih sering smsan. Semua terasa berbeda dari sebelumnya, yang
tadinya gasuka manggil aku kamu sekarang menjadi lebih akrab dengan
panggilan "aku dan kamu". Disitu aku mulai senang, aku mulai benar-benar
suka sama dia tapi aku gatau apa dia juga memiliki rasa yang sama atau
engga. Aku menjalani semuanya seperti biasa, tapi ada yang beda denganku
. Semenjak rasa suka itu muncul aku selalu berusaha buat menghubungi
dia seolah-olah setiap harinya itu aku harus mendapatkan kabar darinya.
Awalnya respon dia terhadap sikapku yang mulai berubah itu baik.
Kebetulan pada hari Selasa 14 Januari 2014 adalah hari ulang tahun
sahabatku, aku dan teman temanku yang lainnya mengadakan surprise buat
sahabatku itu. Kebetulan dia juga ikut dalam acara itu. Seneng sih iya,
tapi aku gak boleh terlalu memperlihatkan tentang perasaanku karena aku
sadar kalau aku itu wanita jadi gak baik kalau terlalu memperlihatkan
rasa suka kepada seorang cowok. Disana aku masih bersikap biasa biasa
saja aku tidak terlalu memperlihatkan rasa suka ku, aku masih mencari
sebuah permasalahan yang sekiranya bisa ngebully dia, ya begitulah
kebiasaanku kalau ketemu dia -saling ngebully- Mungkin dianya juga tau
sama perasaan aku, soalnya dia itu bisa melihat rasa suka seseorang dari
matanya. Kalau emang dia tau sih ya aku seneng, tapi akupun ada malunya
juga. Kata temenku sih dia juga keliatan suka sama aku keliatan dari
matanya. Tapi aku tak mau mengambil kesimpulan dulu takut ujungnya sakit
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu aku menjalani
hari-hariku seperti biasa, tapi ada yang beda karena sekarang perasaanku
mulai terisi dengan rasa suka aku sama dia. Aku lebih sering kontekan
sama dia dibanding dulu yang kontekan itu kalau ada pentingnya aja.
Darisana aku mulai merasa kalau dia juga mempunyai rasa sama aku, entah
dia hanya menghargai perasaanku yang sudah jelas kelihatan suka sama
dia, entahlah aku gatau--
2 minggu 3 minggu sih aku masih sering
kontekan sama dia, tapi menuju ke minggu ketiga aku semakin jarang
kontekan sama dia, bahkan pernah lost contact sama dia hampir seminggu,
nyesek banget kan? tapi aku masih berpikir positif sama dia, ya
maklumlah rasa cinta yang membuatku berpikir positif. Aku juga sadar
kalau aku itu bukan siapa-siapa dia aku dan dia hanya sekedar teman. Dan
akhirnya memang benar dia gak menghubungiku dan gak membalas pesan
singkatku karena dia sakit dan gapunya pulsa katanya. Aku mulai tenang
mendengar kabar dari dia. Sebenernya aku dan dia itu sudah pernah
mengungkapkan perasaan suka satu sama lain tapi dibalik semua itu masih
ada candaan, masih ada kata "haha" dan simbol tertawa. Aku masih belum
percaya jika masih ada kata-kata candaan, jadi aku gamau mengambil
kesimpulan dulu.
Saat itu dia sedang sibuk dengan kegiatan
pramukanya, maklumlah dia anak bantara yang sibuknya itu selangit, jadi
akupun sering di tinggal dan dicuekin sama dia. Eh, tapi aku siapa ya?
Aku kan hanya temannya. Selesai dengan kesibukannya akhirnya dia mulai
peka sama perasaanku dan dengan kode-kodeku yang aku berikan. Seneng sih
iya, tapi kepekaan dia itu tak menghasilkan sebuah tujuan, seolah-olah
dia menganggapnya itu hanya sebuah candaan saja. Ya, mungkin karena kita
terlalu sering bercanda jadi perasaan akupun masih dianggap candaan.
Waktu
itu hari selasa, tepatnya tanggal 4 februari 2014. Saat itu pulang
sekolah aku pulang bareng sama temanku, tapi tidak sampe rumah hanya
sampe pertengahan jalan karena temanku itu katanya mau ketemuan dengan
gebetannya. Ngiri sih soalnya aku juga pengen -_- tapi ya itu, gebetanku
itu terlalu cuek, bahkan aku gatau dia punya perasaan yang sama atau
tidak . Hari selasa itu bagi aku merupakan hari yang lumayan
membahagiakan lah soalnya aku bisa ketemu sama dia, yaa walaupun hanya
ketemu aku bahagia ko. semenjak pertemuan itu, sikap dia jadi berubah
dia semakin peka sama perasaanku, bahkan waktu hari rabunya dia ngajak
pulang bareng, tapi sayangnya Hari rabu itu schedule aku padat banget,
aku harus les, harus rapat osis, dan latsat paskibra, aku gak mungkin
dong meninggalkan semua kegiatanku begitu aja, minimalnya aku harus
memilih salah satu dari kegiatanku itu. Akhirnya dia mengerti dan akupun
mengusulkan Hari Kamis aja pulang barengnya, diapun menyetujui
rencanaku. Aku sangat senang, karena tak biasanya dia mengajakku pulang
bareng, ini semua tuh serasa mimpi. Tapi ya aku gak akan terlalu
memikirkan semuanya lah, dan akupun tak akan terlalu berharap lebih
karena bisa saja kan rencana itu hampir gagal.
Dan hari kamis pun
datang hari yang aku tunggu-tunggu. Ternyata benar apa yang aku duga,
rencana akupun hampir aja gagal dan aku hampir gak akan pulang bareng
dia, tapi aku rela menunggu dia yang katanya hari kamis itu ada rapat
bantara. Yasudah akupun menunggu dia sampai pulang . Akhirnya kesampaian
juga aku pulang bareng dia, selama perjalanan aku dan dia tak banyak
bicara kebanyakan hanya diam. mungkin aku sama dia samasama salting kali
ya?-mungkin-
Selsai kejadian itu aku mencoba menguhubungi dia,
tapi tak ada balasan dari dia--" Aku hanya bisa bersabar dengan sikapnya
itu yang tiba-tiba cuek dan menjauh. Sakit, nyesek, pusing, gak karuan
deh rasanya. Aku jadi nething sama sejak saat itu. Aku jadi berpikir
kenapa dia harus membuatku terbang tinggi dulu dan tiba-tiba dia
jatuhhkan aku begitu saja. Sakit banget kan kalau misalkan lagi
terbang-terbangnya dijatuhin begitu aja. Aku mulai tak berharap lebih
darisana. Hari semakin berlalu, dia pun akhirnya menguhubungiku. Ya ada
rasa senang tapi ada juga rasa sakit, maklum lah habis dijatuhin. Tapi
aku menjalani semuanya seperti biasa, aku tak berharap lebih tapi aku
juga gak mau berhenti bertahan. Aku mulai lelah dengan semua pengabaian
dia, tapi aku juga senang jika kerap kali bertemu dia dan dia
memunculkan sikap yang beda. Entah aku harus gimana, aku gatau apa aku
harus bertahan atau harus pergi. Awalnya aku berpikir, ah mungkin ini
hanya ketertarikan semata. Tapi jika memang ini hanya ketertarikan
semata, kenapa aku bisa bertahan selama ini? kenapa aku bisa bertahan
nungguin kamu hampir sebulan lebih, biasanya kalau hanya ketertarikan
aku tak akan kuat bertahan selama ini. Mungkinkah ini cinta?-- Tapi
kenapa kamu hanya mengabaikan aku? Aku hanya bisa diam dan mengeluh pada
diriku sendiri. Aku hanya wanita yang bisanya itu cuma nunggu,
ngungkapin perasaan juga hanya lewat kode, tak bisa langsung. Aku lelah
yang teramat lelah nunggu kamu, aku gabisa berbuat apa-apa. Kerap kali
aku berpikir haruskah aku pergi setelah menunggu selama ini, hatiku
masih ingin bertahan tapi logika ku menyuruh pergi. Aku hanya bisa
mengikuti kata hatiku yang akan bertahan sampai kapan pun itu. Aku
berani berharap dan bertahan menunggu dia, tapi akupun akan
mempersiapkan jika suatu saat nanti aku harus kecewa. Jika aku berani
berharap harus berani juga menanggung apapun resikonya. Kalau kata kak
dwita sih "Aku adalah orang yang takut kehilangan kamu, dan paling
mustahil untuk memiliki kamu". ya begitulah aku sekarang . Aku lelah
selelahnya orang yang sedang kelelahan. Tapi aku ingin bertahan, aku
hanya bisa berharap kepada Tuhan agar membukakan hatinya untukku . Aku
tak akan berbicara banyak, aku hanya akan diam tanpa aku harus
mengungkapkan.
Waktu sudah berlalu dan kini waktu yang menjawab
semuanya, dia memang bukan yang terbaik untukku. Dia memilih untuk
bersama yang lain dan aku. Mungkin itu memang kebahagiaannya, aku yang
dulu menyukainya dan memperdulikannya sekarang belajar untuk tidak mau
tau dan tidak mau peduli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar