Minggu, 05 Oktober 2014

Menunggu itu melelahkan

Menunggu. mungkin bagi setiap orang menunggu itu sangat membosankan. Kalau kata anak remaja sekarang sih menunggu itu ga enak. Memang menunggu itu membosankan, melelahkan, dan ga enak, aku juga pernah bahkan sedang merasakan yang namanya nunggu. Aku memiliki rasa pada sahabatku sendiri, memang sih ga wajar kalau misalkan kita punya rasa sama sahabat kita sendiri. Tapi ya itulah yang sekarang aku rasakan. Dia adalah sahabatku, bukan hanya sahabat sih tapi dia juga teman bercanda sekaligus teman berantem aku. Saat itu aku sedang mengalami yang namanya diselingkuhin. Nyesek sakit pedih itu yang aku rasain saat aku disakitin sama yang namanya cowo. Tapi perlahan-lahan aku mulai bisa melupakan cowo yang nyakitin aku itu. Dan entah kenapa pada saat hari terakhir liburan aku bertemu dengan temanku itu, dan disitulah perasaan ini mulai muncul. Aku juga gatau kenapa perasaan ini muncul begitu saja, aku mencoba memendam perasaanku ini, dari pertemuan itu aku dan dia menjadi lebih sering smsan. Semua terasa berbeda dari sebelumnya, yang tadinya gasuka manggil aku kamu sekarang menjadi lebih akrab dengan panggilan "aku dan kamu". Disitu aku mulai senang, aku mulai benar-benar suka sama dia tapi aku gatau apa dia juga memiliki rasa yang sama atau engga. Aku menjalani semuanya seperti biasa, tapi ada yang beda denganku . Semenjak rasa suka itu muncul aku selalu berusaha buat menghubungi dia seolah-olah setiap harinya itu aku harus mendapatkan kabar darinya. Awalnya respon dia terhadap sikapku yang mulai berubah itu baik. Kebetulan pada hari Selasa 14 Januari 2014 adalah hari ulang tahun sahabatku, aku dan teman temanku yang lainnya mengadakan surprise buat sahabatku itu. Kebetulan dia juga ikut dalam acara itu. Seneng sih iya, tapi aku gak boleh terlalu memperlihatkan  tentang perasaanku karena aku sadar kalau aku itu wanita jadi gak baik kalau terlalu memperlihatkan rasa suka kepada seorang cowok. Disana aku masih bersikap biasa biasa saja aku tidak terlalu memperlihatkan rasa suka ku, aku masih mencari sebuah permasalahan yang sekiranya bisa ngebully dia, ya begitulah kebiasaanku kalau ketemu dia -saling ngebully- Mungkin dianya juga tau sama perasaan aku, soalnya dia itu bisa melihat rasa suka seseorang dari matanya. Kalau emang dia tau sih ya aku seneng, tapi akupun ada malunya juga. Kata temenku sih dia juga keliatan suka sama aku keliatan dari matanya. Tapi aku tak mau mengambil kesimpulan dulu takut ujungnya sakit .
Hari berganti hari, minggu berganti minggu aku menjalani hari-hariku seperti biasa, tapi ada yang beda karena sekarang perasaanku mulai terisi dengan rasa suka aku sama dia. Aku lebih sering kontekan sama dia dibanding dulu yang kontekan itu kalau ada pentingnya aja. Darisana aku mulai merasa kalau dia juga mempunyai rasa sama aku, entah dia hanya menghargai perasaanku yang sudah jelas kelihatan suka sama dia, entahlah aku gatau--
2 minggu 3 minggu sih aku masih sering kontekan sama dia, tapi menuju ke minggu ketiga aku semakin jarang kontekan sama dia, bahkan pernah lost contact sama dia hampir seminggu, nyesek banget kan? tapi aku masih berpikir positif sama dia, ya maklumlah rasa cinta yang membuatku berpikir positif. Aku juga sadar kalau aku itu bukan siapa-siapa dia aku dan dia hanya sekedar teman. Dan akhirnya memang benar dia gak menghubungiku dan gak membalas pesan singkatku karena dia sakit dan gapunya pulsa katanya. Aku mulai tenang mendengar kabar dari dia. Sebenernya aku dan dia itu sudah pernah mengungkapkan perasaan suka satu sama lain tapi dibalik semua itu masih ada candaan, masih ada kata "haha" dan simbol tertawa. Aku masih belum percaya jika masih ada kata-kata candaan, jadi aku gamau mengambil kesimpulan dulu.
Saat itu dia sedang sibuk dengan kegiatan pramukanya, maklumlah dia anak bantara yang sibuknya itu selangit, jadi akupun sering di tinggal dan dicuekin sama dia. Eh, tapi aku siapa ya? Aku kan hanya temannya. Selesai dengan kesibukannya akhirnya dia mulai peka sama perasaanku dan dengan kode-kodeku yang aku berikan. Seneng sih iya, tapi kepekaan dia itu tak menghasilkan sebuah tujuan, seolah-olah dia menganggapnya itu hanya sebuah candaan saja. Ya, mungkin karena kita terlalu sering bercanda jadi perasaan akupun masih dianggap candaan.
Waktu itu hari selasa, tepatnya tanggal 4 februari 2014. Saat itu pulang sekolah aku pulang bareng sama temanku, tapi tidak sampe rumah hanya sampe pertengahan jalan karena temanku itu katanya mau ketemuan dengan gebetannya. Ngiri sih soalnya aku juga pengen -_- tapi ya itu, gebetanku itu terlalu cuek, bahkan aku gatau dia punya perasaan yang sama atau tidak . Hari selasa itu bagi aku merupakan hari yang lumayan  membahagiakan lah soalnya aku bisa ketemu sama dia, yaa walaupun hanya ketemu aku bahagia ko. semenjak pertemuan itu, sikap dia jadi berubah dia semakin peka sama perasaanku, bahkan waktu hari rabunya dia ngajak pulang bareng, tapi sayangnya Hari rabu itu schedule aku padat banget, aku harus les, harus rapat osis, dan latsat paskibra, aku gak mungkin dong meninggalkan semua kegiatanku begitu aja, minimalnya aku harus memilih salah satu dari kegiatanku itu. Akhirnya dia mengerti dan akupun mengusulkan Hari Kamis aja pulang barengnya, diapun menyetujui rencanaku. Aku sangat senang, karena tak biasanya dia mengajakku pulang bareng, ini semua tuh serasa mimpi. Tapi ya aku gak akan terlalu memikirkan semuanya lah, dan akupun tak akan terlalu berharap lebih karena bisa saja kan rencana itu hampir gagal.
Dan hari kamis pun datang hari yang aku tunggu-tunggu. Ternyata benar apa yang aku duga, rencana akupun  hampir aja gagal dan aku hampir gak akan pulang bareng dia, tapi aku rela menunggu dia yang katanya hari kamis itu ada rapat bantara. Yasudah akupun menunggu dia sampai pulang . Akhirnya kesampaian juga aku pulang bareng dia, selama perjalanan aku dan dia tak banyak bicara kebanyakan hanya diam. mungkin aku sama dia samasama salting kali ya?-mungkin-
Selsai kejadian itu aku mencoba menguhubungi dia, tapi tak ada balasan dari dia--" Aku hanya bisa bersabar dengan sikapnya itu yang tiba-tiba cuek dan menjauh. Sakit, nyesek, pusing, gak karuan deh rasanya. Aku jadi nething sama sejak saat itu. Aku jadi berpikir kenapa dia harus membuatku terbang tinggi dulu dan tiba-tiba dia jatuhhkan aku begitu saja. Sakit banget kan kalau misalkan lagi terbang-terbangnya dijatuhin begitu aja. Aku mulai tak berharap lebih darisana. Hari semakin berlalu, dia pun akhirnya menguhubungiku. Ya ada rasa senang tapi ada juga rasa sakit, maklum lah habis dijatuhin. Tapi aku menjalani semuanya seperti biasa, aku tak berharap lebih tapi aku juga gak mau berhenti bertahan. Aku mulai lelah dengan semua pengabaian dia, tapi aku juga senang jika kerap kali bertemu dia dan dia memunculkan sikap yang beda. Entah aku harus gimana, aku gatau apa aku harus bertahan atau harus pergi.  Awalnya aku berpikir, ah mungkin ini hanya ketertarikan semata. Tapi jika memang ini hanya ketertarikan semata, kenapa aku bisa bertahan selama ini? kenapa aku bisa bertahan nungguin kamu hampir sebulan lebih, biasanya kalau hanya ketertarikan aku tak akan kuat bertahan selama ini. Mungkinkah ini cinta?-- Tapi kenapa kamu hanya mengabaikan aku? Aku hanya bisa diam dan mengeluh pada diriku sendiri. Aku hanya wanita yang bisanya itu cuma nunggu, ngungkapin perasaan juga hanya lewat kode, tak bisa langsung. Aku lelah yang teramat lelah nunggu kamu, aku gabisa berbuat apa-apa. Kerap kali aku berpikir haruskah aku pergi setelah menunggu selama ini, hatiku masih ingin bertahan tapi logika ku menyuruh pergi. Aku hanya bisa mengikuti kata hatiku yang akan bertahan sampai kapan pun itu. Aku berani berharap dan bertahan menunggu dia, tapi akupun akan mempersiapkan jika suatu saat nanti aku harus kecewa. Jika aku berani berharap harus berani juga menanggung apapun resikonya. Kalau kata kak dwita sih "Aku adalah orang yang takut kehilangan kamu, dan paling mustahil untuk memiliki kamu". ya begitulah aku sekarang . Aku lelah selelahnya orang yang sedang kelelahan. Tapi aku ingin bertahan, aku hanya bisa berharap kepada Tuhan agar membukakan hatinya untukku . Aku tak akan berbicara banyak, aku hanya akan diam tanpa aku harus mengungkapkan.
 Waktu sudah berlalu dan kini waktu yang menjawab semuanya, dia memang bukan yang terbaik untukku. Dia memilih untuk bersama yang lain dan aku. Mungkin itu memang kebahagiaannya, aku yang dulu menyukainya dan memperdulikannya sekarang belajar untuk tidak mau tau dan tidak mau peduli.